ucuffucu

ucuffucu
Supriyadi

Rabu, 03 Agustus 2011

POLA DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI NUSANTARA PADA MASA AWAL SAMPAI SEBELUM KEMERDEKAAN


A.      PENDAHULUAN
Sebelum islam datang ke Indonesia dalam abad XIII, maka telah terjelma kerajaan-kerajaan yang susunan pemerintahannya, corak masyarakatnya, alam pikirannya banyak di pengaruhi Hinduisme dan Budhisme. Kerajaan-kerajaan itu, terdapat di selat Malaka, di Sumatera Utara, di Kalimantan Utara dan Timur. Mereka memiliki susunan ekonomi yang tergantung pada perdagangan laut.
Di samping negara-negara pesisir, tumbuh pula di pedalaman kerajaan-kerajaan yang hidup dari pertanian. Antara kerajaan pesisir dan pedalaman selalu terdapat pertentangan karena perebutan kekuasaan. Dalam pertentangan politik itu unsur agama belum turut memegang peranan selama kerajaa-kerajaan tadi masih diperintah oleh raja-raja yang menganut agama Hindu Budha. Akan tetapi setelah proses peng-Islaman dimulai pada akhir abad XIII sejak dari Sumatera Utara di kerajaan Pasai, Samudera di selat Malaka, terus hingga ke pantai  Utara pulau Jawa, maka unsur agama masih memegang peranan.
Eksistensi pendidikan Islam di Indonesia adalah suatu kenyataan yang sudah berlangsung sangat panjang dan sudah memasyarakat. Pada masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, pendidikan Islam diselenggarakan oleh masyarakat sendiri dengan mendirikan pesantren, sekolah dan tempat latihan-latihan lain. Setelah merdeka, pendidkan Islam dengan ciri khasnya madrasah dan pesantren mulai mendapatkan perhatian dan pembinaan dari pemerintah Republik Indonesia.
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan generasi penerus bangsa yang siap melanjutkan estafet perjuangan bangsa Indonesia. Dalam perkembangan sejarah, pendidikan di Indonesia telah berlangsung sejak sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI. Dalam banyak referensi desbutkan bahwa tonggak-tonggak sejarah pendidikan di Indonesia dimulai dari munculnya organisasi Budi Utomo (1908) Kebangkitan Nasional (1928), masa kemerdekaan (1945-1955), masa orde lama (1955-1967), masa orde baru (1967- 1997) hingga masa reformasi saat ini..
Pendidikan islam di Indonesia tidak dapat lepas dari apa yang diilustrasikan pada kebijakan-kebjakan pemerintah kolonial Belanda dan pemerintah Jepang yang telah menjajah bangsa Indonesia selama berabad-abad. Oleh karena itu periodisasi sejarah pedidikan islam dibagi dalam dua garis besar, yaitu periode sebelum kemerdekaan dan periode sesudah kemerdekaan.
Dalam perkembangannya, pendidikan islam di Indonesia tidak lepas dari permasalahan bangsa baik sosial maupun politik. Berbagai macam kritik dan saran ditujukan kepada pendidikan islam di Indonesia untuk membangu pendidikan islam yang lebih baik.

B.       RUMUSAN MASALAH
Dari uraian yang dikemukakan di atas, untuk melihat lebih jauh berkenaan dengan situasi pola dan kebijakan pendidikan Islam di masa penjajahan (sebelum proklamasi) serta peran organisasi keagamaan pada pendidikan islam di era penjajahan, lewat tulisan ini pemakalah mengangkat beberapa permasalahan :
a.       Bagaimana eksistensi pola pendidikan islam di masa sebelum kemerdekaan?
b.      Bagaimana ciri-ciri pendidikan islam sebelum kemerdekaan?
c.       Bagaimana Kebijakan pendidikan Islam sebelum kemerdekaan?
d.      Bagaimana peranan dan fungsi organisasi keagamaan dalam dunia pendidikan Islam di era penjajahan?

C.         PEMBAHASAN
a.      Pola Pendidikan Islam Sebelum Kemerdekaan
Pendidikan di Indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan dapat digolongkan ke dalam tiga periode, yaitu:Pendidikan yang berlandaskan ajaran keagamaan, Pendidikan yang berlandaskan kepentingan penjajahan, dan Pendidikan dalam rangka perjuangan kemerdekaan.
Pendidikan berlandaskan ajarna Islam dimulai sejak datangnya para saudagar asal Gujarat India ke Nusantara pada abad ke-13. Kehadiran mereka mula-mula terjalin melalui kontak teratur  dengan para pedagang asal Sumatra dan Jawa. Ajaran islam mula-mula berkembang di kawasan pesisir, sementara di pedalaman agama Hindu masih kuat. Didapati pendidikan agama Islam di masa prakolonial dalam bentuk pengajian Al Qur’an dan pengajian kitab yang di selenggarakan di rumah-rumah, surau, masjid, pesantren dan lain-lain. Pada perkembangan selanjutnya mengalami perubahan bentuk baik dari segi kelembagaan, materi pengajaran, metode maupun struktur organisasinya sehingga melahirkan suatu betuk yang baru yang disebut madrasah.
Pemerintah Belanda mulai menjajah Indonesia pada tahun 1619 yaitu ketika Jan Pieter Coen menduduki Jakarta. Kemudian Belanda satu demi satu memperluas jajahannya ke berbagai daerah dan diakui bahwa Belanda datang ke Indonesia bermotif ekonomi, politik dan agama.  Tahun 1882 M pemerintah Belanda membentuk suatu badan khusus untuk mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan Islam.  Selanjutnya pada tahun 1932 M keluar peraturan yang dapat memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau memberi pelajaran yang tidak disukai penjajah. Tekanan yang diberikan pihak penjajah justru tidak dihiraukan terbukti dalam sejarah masyarakat muslim Indonesia pada saat itu organisasi Islam laksana air hujan yang sulit dibendung.
Belanda cukup banyak mewarnai perjalanan sejarah di Indonesia. Kedatangan  Belanda di satu pihak memang telah membawa kemajuan teknologi, tetapi kemajuan tersebut hanyalah untuk meningkatkan hasil penjajahannya. Begitu pula dengan pendidikan mereka telah memperkenalkan sistem dan metodologi baru yang tentu saja efektif, namun semua itu dilakukan untuk meghasilkan tenaga-tenaga yang dapat membantu segala kepentingan penjajah. Dan kenyataannya Belanda mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan memeras tenaga sumber daya alam dan pembdohan terhadap penduduk pribumi. Apa yang disebut sebagai emberuan pendidikan adalah westernisasi dan kristenisasi untuk kepentingan barat dan nasrani. Dua motif inilah yang mewarnai kebijaksanaan penjajahan Belanda di Indonesia yang berlangsung selama tiga setengah abad.
Pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan sekolah-sekolah modern menurut sistem persekolahan di dunia barat, sedikit banyak mempengaruhi sistem pendidikan di Indonesia, yaitu pesantren.npadahal diketahui bahwa pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan formal do Indonesia sebelum adanya kolonial Belanda, justru sangat berbeda dalam sistem pengelolaannya dengan sekolah yang diperkenalkan oleh Belanda
Dalam hal ini muncul kesadaran dari pendidikan islam. Ulama-ulama yang waktu itu juga menyadari bahwa sistem pendidikan tradisional dan langgar tidak lagi sesuai dengan iklin pada masa itu. Maka dirasakanlah akan pentingnya pemberian pendidikan secara teratur di madrasah  atau sekolah. Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho dengan pembaruan di bidang sosial dan kebudayaan yang berdasarkan tradisi islam al qur’an dan hadist yang dibangkitkan kembali dengan menggunakan ilmu-ilmu barat. Dengan memasukkan jiwa penggerak untuk maju ke dalam kurikulum, maka muncullah tokoh-tokoh pembaruan di Indonesia yang mendirikan sekolah islam dimana-mana.
Selanjutnya pada masa penjajahan kedua yaitu penjajah Jepang, awalnya memberi prioritas umat Islam di Indonesia untuk mengembangkan pendidikan Islam utamanya syiar Islam, hal itu merupakan siasat yang dijalankan Jepang untuk kepentingan Perang Dunia II terbukti setelah Jepang mendapat tekanan dari sekutu justru Jepang memperlihatkan dirinya sebagai penjajah yang lebih kejam dari Belanda.  Rakyat dipaksa untuk bergabung dengan badan pertahanan Jepang sehingga pendidikan rakyat terbengkalai.  Meskipun di bawah penindasan Jepang, masih ada madrasah-madrasah yang bisa jalan dalam lingkungan pesantren di mana lingkungan tersebut jauh dari jangkauan Jepang.  Penjajahan yang dialami bangsa Indonesia membuat bangsa Indonesia menderita tetapi dengan semangat patriotisme dan nasionalisme dari pejuang dan ulama yang berjuang membentuk organisasi untuk menyelamatkan nilai-nilai Islam dalam menghadapi penjajah dan menyelamatkan umat dari penindasan dan kebodohan.
Sejarah pendidikan islam telah menunjukkan kepada kita bahwa sejak perkembangan Islam, pendidikan mendapat prioritas utama masyarakat muslim Indonesia.  Di samping besarnya arti pendidikan, kepentingan Islamisasi mendorong umat Islam melaksanakan pengajaran Islam kendati masih dalam sistem yang sederhana, di mana pengajaran diberikan dengan sistem halaqah yang dilakukan di tempat ibadah semacam mesjid, mushallah bahkan juga di rumah ulama.  Di samping itu pendidikan mengalami perubahan dan perkembangan sehingga orang biasa mengatakan bahwa pendidikan sekarang merupakan perkembangan pendidikan masa lalu. Pada hakikatnya pendidikan agama Islam adalah upaya transfer nilai-nilai agama, pengetahuan dan budaya yang dilangsungkan secara berkesinambungan sehingga nilai-nilai itu dapat menjadi sumber motivasi dan aspirasi serta tolok ukur dalam perbuatan dan sikap maupun pola berpikir. Sementara tekad bangsa Indonesia yang selalu ingin kembali kepada Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen sangat kuat. Berdasarkan tekad itu pulalah maka kehidupan beragama dan pendidikan agama khususnya semakin mendapat tempat yang kuat dalam organisasi dan struktur pemerintahan.
Islam adalah ajaran yang menyeluruh dan terperlu, ia mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik dalam urusan-urusan keduniaan maupun yang menyangkut hal-hal keakhiratan. Pendidikan hal yang tidak terpisahkan dari ajaran islam, ia merupakan bagian terpadu dari ajaran Islam. Perkembangan pendidikan memotivasi dan mendorong para cendekiawan muslim (ulama) untuk membentuk lembaga organisasi keagamaan demi menyelamatkan umat dari ketertindasan dan kebodohan serta mengantar umat islam ke arah yang lebih layak dengan tatanan  nilai-nilai hukum Islam.


b.      Ciri ciri pendidikan islam sebelum kemerdekaan
Adapun ciri-ciri pendidikan islam sebelum tahun 1900:
-          Pelajaran diberikan satu demi satu
-          Ilmu sorof didahulukan dari ilmu nahwu
-          Buku pelajaran pada mulanya dikarang oleh ulama indonesia dan diterjemahkan kedalam bahasa daerah setempat.
-          Kitab yang digunakan pada umumnya ditulis tangan
-          Pelajaran suatu ilmu hanya diajarkan dalam satu macam buku saja.
-          Tokoh buku belum ada, yang ada hanyalah menyalin buku dengan tulisan tangan
-          Karena terbatasnya bacaan, materi ilmu agama sangat sedikit.
-          Belum lahir aliran baru dalam islam.

Dalam tahun 1905, pemerintah mengeluarkan suatu peraturan yang mengharuskan para guru agama islam memiliki izin khusus untuk mengajar tentang pendidikan islam. Izin ini mengemukakan secara terperinci sifat pendidikan yang dilaksanakan, dan guru agama yang bersangkutan secara periodik kepada kepala daerah yang bersangkutan.
Ciri-ciri elajaran agama pada masa peralihan(tahun 1900)
a.       Pelajaran untuk dua sampai enam ilmu dihimpun secara sekaligus
b)      Ilmu nahwu didahulukan dari ilmu sorof
c)      Buku pelajaran semuanya karangan ulama islam kuno dan dalam bahasa Arab
d)     Buku-buku semuanya dicetak
e)      Suatu ilmu diajarkan dari beberapa macam buku
f)       Lahirnya aliran baru dalam islam seperti yang dibawa oleh majalah Al Manar di Mesir
c.       Kebijakan pendidikan Islam sebelum kemerdekaan
Terjadinya pembaruan di Indonesia juga dipengaruhi oleh adanya hubungan dengan luar negeri, melalui media masa seperti majalah-majalah yang isinya berupa motivasi untuk terus melakukan pembaruan dan membakar semangat para tokoh-tokoh pembaruan di Indonesia, walaupun berbagai usaha yang dilakukan belanda agar Indonesia tidak menjalin kontak dengan luar negeri, termasuk melarang masuknya buku-buku atau majalah-majalah yang berisikan tentang ide-ide pembaruan.
Dengan demikian terlihat jelas adanya perbedaan pelaksanaan pendidikan islam pada masa peralihan dengan masa sebelum tahun 1900, di mana kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda sedang ketat-ketatnya, dan sedang gencar pempropagandakan antara golongan pribumi dengan priayi atau pejabat bahkan beragama kristen.
Pada tahun 1926 diadakan kongres islam di Bogor,yang tidak mempersoalkan peraturan 1905 lagi, karena telah diganti dengan peraturan baru yaitu ordonasi guru tahun 1925. Menurut peraturan ini,bupati tidak diperlukan untuk memberikan pelajaan agama, tetapi guru agama islam hendaklah memberitahukan kepada pejabat yang bersangkutantentang maksud mereka mngajar. Pemberitahuan tersebut harus disampaikan dalam formulir khusus yang diberikan oleh kepala pemerintah setempat. Guru-guru juga harus membuat daftar murid serta berbagai keterangan mengenai kurikulum dan segalanya dalam bentuk tertentu.
Selnjutnya pada tahun 1932keluar pula peraturan yang dapat membrantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah, yang disebut dengan sekolah liar. Peraturan ini dikeluarkan setelah munculnya gerakan nasionalisme islamisme pada tahun 1928 berua sumpah pemuda. Selain itu untuk lingkungan kehidupan agama kristen di Indonesia yang selalu menghadapi reaksi dari rakyat, dan untuk menjaga dan menghalangi masuknya pelajaran agama di sekolah umum yang kebanyakan muridnya beragama islam, maka pemerintah mengeluarkan peraturan yang disebut netral agama.
Dengan begitu banyaknya perlawanan dari berbagai pihak Indonesia secara tegas dan pasti, maka bulan Februari 1933 Belanda menarik kembali ordonasi tersebut “untuk sementara” dan menggantinya dengan sebuah keputusan yang menetapkan syarat-syarat yang lebih lunak dalam memberikan pelajaran. Dengan demikian, peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah bertujuan untuk menghambat  dan menghalang-halangi perkembangan dan pembaruan pemikiran islam di Indonesia. Setelah Belanda angkat kaki dari bumi Indonesia, maka muncul pergerakan Jepang. Jepang tidak begitu ketatnya terhadap pendidikan islam di Indonesia, Jepang memberikan toleransi yang banyak terhadap pendidikan islam di Indonesia, kesetaraan pendidikan penduduk pribumi sama dengan penduduk atau anak-anak para penguasa, bahkan Jepang banyak mengajarkan ilmu-ilmu beladiri kepada pemuda Indonesia.
Sikap penjajah jepang terhadap pendidikan islam ternyata lebih lunak, sehingga ruang gerak pendidikan islam lebih bebas ketimbang penjajahan kolonial belanda, karena Jepang tidak terlalu memikirkan kepentingan agama. Keadaan agak berubah, karena ada kemajuan dalam pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah Umum. Hal ini disebabkan karena mereka mengetahui bahwa sebagian besar bangsa Indonesia adalah pemeluk agama Islam, maka untuk menarik simpati dari pemeluk agama Islam maka Jepang menaruh perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan agama Islam.
Terlebih lagi pada awalnya, pemerintah Jepang menampakan diri seakan-akan membela kepentingan Islam yang merupakan siasat untuk kepentingan perang Dunia II. Masalahnya Jepang tidak begitu menghiraukan kepentingan agama. Untuk mendekati umat Islam Jepang menempuh beberapa kebijakan diantaranya pada jaman Jepang dibentuknya KUA, didirikanya Masyumi dan pembentukan Hisbullah.
Pada masa pendudukan Jepang, ada satu hal istimewa dalam dunia pendidikan, yaitu sekolah-sekolah telah di selenggarakan dan dinegerikan meskipun sekolah-sekolah suasta lain seperti Muhammadiyah, Taman Siswa dan lain-lain diiziankan terus berkembang dengan pengaturan dan diselenggarakan oleh penduduk Jepang. Di Sumatra, organisasi-organisasi Islam menggabungkan diri dalam majelis Islam tinggi. Kemudian majelis tersebut mengajukan usul kepada pemerintah Jepang, agar di sekolah-kolah pemerintah diberikan pendidikan agama sejak sekolah rakyat tiga tahun dan ternyata usul tersebut disetujui dengan syarat tidak diberikan anggaran biaya untuk guru-guru agama.
Mulai saat itu maka pendidikan agama secara resmi boleh diberikan di sekolah-sekolah pemerintah, namun hal ini hanya berlaku di pulau Sumatra saja. Sedangkan di daerah-daerah lain masih belum ada pendidikan agama di sekolah-sekolah pemerintah, yang ada hanya pendidikan budi pekerti yang didasarkan atau bersumber pada agama juga.
d.      Peranan Organisasi Keagamaan dalam Pendidikan Islam sebelum kemerdekaan
Munculnya organisasi Islam pertama kali di Indonesia adalah sebagai upaya untuk melaksanakan ajaran Islam dan mencerdaskan bangsa.  Salah satu program yang dijalankan oleh setiap organisasi Islam yaitu pada bidang pendidikan.  Beberapa organisasi Islam di masa penjajahan yaitu :
1.      Jamiatul Khair
Al-Jamiatul Khairiyah yang lebih dikenal dengan Jamiatul Khair didirikan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 1905 yang beranggotakan mayoritas kalangan Arab. Program utamanya adalah pendirian dan pembinaan sekolah tingkat dasar serta pengiriman anak-anak muda ke Turki untuk melanjutkan pendidikan namun program ini memiliki hambatan karena kekurangan dan kemunduran kekhalifahan. Tampilnya Jamiatul Khair sebagai organisasi kegamaan berorintasi pada pembaharuan pendidikan Islam terasa sangat penting karena organisasi ini merupakan organisasi modern dalam masyarakat Islam.  Kemoderenan organisasi ini terlihat dalam anggaran dasar mata pelajaran yang diajarkan bersifat umum, keseluruhan kegiatannya didasarkan pada sistem Barat.

2.      Al Irsyad
Al-Irsyad adalah pecahan dari Jamiatul Khair. Al Irsyad mempunyai tujuan utama yaitu pertama merubah tradisi dan kebiasaan orang-orang Arab tentang kitab suci, bahasa Arab, bahasa Belanda dan bahasa lainnya. Kedua membangun dan memelihara gedung-gedung pertemuan sekolah dan unit percetakan. Salah satu perubahan yang dilakukan Al Irsyad adalah pembaharuan di bidang pendidikan.  Pada tahun 1913 didirikan sebuah perguruan modern di Jakarta dengan sistem kelas materi pelajaran yang diberikan adalah pelajaran umum di samping pelajaran agama.  Sekolah Al-Irsyad mempunyai cabang dan semuanya berada di tingkat dasar.
3.      Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 10 November 1912 bertepatan dengan 8 Zulhijjah 1330 H oleh K.H. Ahmad Dahlan.  Muhammadiyah merupakan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan kemasyarakatan.  Tujuan didirikannya Muhammadiyah adalah untuk membebaskan umat Islam dari kebekuan dalam segala bidang kehidupan dan praktek agama yang menyimpang dari kemurnian ajaran Islam.
Sebagai organisasi dakwah dan pendidikan, Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan dari tingkat dasar samapai perguruan tinggi.  Muhammadiyah memulai pendirian sekolah dasar pada tahun 1915 di mana pada sekolah tersebut diajarkan pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Pada tahun 1929, Muhammadiyah telah menerbitkan 700.000 buah buku dan brosur.  Pada tahun 1938 telah memiliki 31 perpustakaan umum dan 1774 sekolah.
Muhammadiyah saat ini sebagai organisasi keagamaan yang bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan mengalami kemajuan pesat hampir di setiap daerah berdiri lembaga pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi.  Di samping itu, Muhammadiyah mendirikan masjid dan rumah sakit untuk masyarakat.
4.      Persatuan Islam (PERSIS)
Persatuan Islam (PERSIS) didirikan secara resmi pada tanggal 12 September 1923 di Bandung oleh sekelompok orang Islam yang berminat dalam studi dan aktivitas keagamaan yang dipimpin oleh Zamzam dan Muhammad Yunus.  Berbeda dengan organisasi lain yang berdiri pada awal abad ke-20, PERSIS mempunyai ciri khas tersendiri di mana organisasi ini di samping pendidikan juga dititikberatkan pada pembentukan faham keislaman. Perhatian PERSIS terutama dalam menyebarkan cita-cita dan pikirannya, ini dilakukan dengan mengadakan pertemuan-pertemuan bersama tokoh-tokoh PERSIS, melakukan khotbah-khotbah, membentuk kelompok studi, mendirikan sekolah-sekolah, menerbitkan dan menyebarkan majalah dan kitab.
5.      Nahdatul Ulama (NU)
Nahadatul Ulama (NU) didirikan di Surabaya pada tanggal 13 Januari 1926 yang dipelopori oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah, sebagai perluasan dari komite hijaz yang dibangun untuk dua maksud yaitu pertama untuk mengimbangi komite khilafah yang secara berangsur-angsur  jatuh ke tangan golongan pembaharu. Kedua, untuk berseru kepada Ibnu Sa’ad penguasa baru di tanah Arab agar kebiasaan beragama secara tradisi dapat diteruskan.
Pada awalnya, organisasi ini tidak mempunyai rencana yang jelas kecuali yang bersangkutan dengan masalah pergantian kekuasaan di Hijaz. Tahun 1927 baru tujuan organisasi dirumuskan, di mana organisasi ini memperkuat dan memformulasikan salah satu Madzhab (empat madzhab) untuk melakukan kegiatan yang umumnya berdasarkan ajaran Islam. Kegiatan ini meliputi usaha untuk memperkuat persatuan di kalangan ulama yang berpegang teguh pada Madzhab, pengawasan terhadap pemakaian kitab-kitab di pesantren serta penyebaran agama Islam. Nahdatul Ulama memberikan perhatian yang besar kepada pendidikan, khususnya pendidikan tradisional yang harus dipertahankan keberadaannya.  Pada awal berdirinya, NU tidak membicarakan secara tegas tentang pembaharuan pendidikan namun demikian NU juga pada dasarnya dalam pembaharuan pendidikan.
  KESIMPULAN
Kondisi Pendidikan Islam pada masa penjajahan cukup banyak mendapat tekanan dari pihak penjajah namun dengan semangat jiwa patriotisme dan semangat jihad di jalan Allah yang dimiliki oleh para pejuang Islam mampu melawan penjajah dengan berbagai cara termasuk penyelenggaraan pendidikan Islam sesuai dengan organisasi keagamaan yang telah dibentuk masing-masing tokoh pendidikan tersebut.
Latar belakang munculnya pendidikan Islam di Indonesia akibat adanya desakan penjajah untuk membatasi gerakan keagamaan dalam bidang pendidikan, di samping itu juga munculnya gerakan pembaharuan pemikiran keagamaan dari tokoh Islam. Pendidikan Islam yang dalam hal ini dapat diwakili oleh pendidikan meunasah atau dayah, surau, dan pesantren diyakini sebagai pendidikan tertua di Indonesia. Pendidikan Pendidikan ketiga institusi di atas memiliki nama yang berbeda, akan tetapi memiliki pemahaman yang sama baik secara fungsional, substansial, operasional, dan mekanikal. Secara fungsional trilogi sistem pendidikan tersebut dijadikan sebagai wadah untuk menggembleng mental dan moral di samping wawasan kepada para pemuda dan anak-anak untuk dipersiapkan menjadi manusia yang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara.
Sebelum masuknya penjajah Belanda, sistem pendidikan pribumi tersebut berkembang dengan pesat sesuai dengan perkembangan agama Islam yang berlangsung secara damai, ramah, dan santun. Perkembangan tersebut pada dasarnya merupakan bukti bagi kesadaran masyarakat Indonesia akan sesuainya model pendidikan Islam dengan nurani masyarakat dan bangsa Indonesia saat itu. Kehidupan masyarakat terasa harmonis, selaras, dan tidak saling mendominasi. Hanya saja sejak masuknya bangsa penjajah baik Spanyol, Portugis, dan Belanda dengan sifat kerakusan akan kekayaan dan materi yang luar biasa menjadikan masyarakat Indonesia tercerai berai.
DAFTAR PUSTAKA
-          Azra , Azyumardi. Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999
-          Departemen Agama. Rekontruksi Sejarah Pendidikan islam Di Indonesia. Jakarta: Departemen Agama RI, 2005
-          Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : PT.Grafindo Persada,1995
-          Nata, Abudin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa, 2003
-          Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Kencana, 2009
-          Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta:Hida Agung,1985.
-          Zuhairini, Dra, Dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara, 2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar