ucuffucu

ucuffucu
Supriyadi

Rabu, 20 Juli 2011

PENDEKATAN PSIKOLOGIS DALAM STUDI ISLAM


PENDEKATAN PSIKOLOGIS DALAM STUDI ISLAM

A.     Latar Belakang
Psikologi sebagai ilmu terapan berkembang sejalan dengan kegunaannya. Psikologi yang diakui sebagai disiplin yang mandiri sejak tahun 1879 ini ternyata telah memperlihatkan berbagai sumbangannya dalam berbagai problema dan menguak misteri hidup manusia serta mengupayakan peningkatan sumber daya manusia (Djamaludin Anlok, 1994:1). Kajian-kajian yang khusus mengenai agama melalui pendekatan psikologis ini sejak awal abad ke-19 menjadi kian berkembang, sehingga para ahli psikologi yang bersangkutan melalui karya mereka telah membuka lapangan baru dalam kajian psikologi, psikologi agama.
Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada hubungannya dengan keyakinan beragama. Psikologi agama mencakup dua bidang kajian yang berbeda, yaitu psikologi dan agama. Walaupun, psikologi dan agama mencakup masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia, namun dari sisi tertentu terdapat perbedaan di antara keduanya. Masalah kejiwaan dalam hubungannya dengan tingkah laku manusia, bagaimanapun mungkin untuk dikaji secara empiris oleh ilmu pengetahuan profan. Sebaliknya masalah agama yang berhubungan dengan keyakinan dianggap memiliki nilai-nilai sakral. Mengkaji agama dengan menggunakan ilmu pengetahuan profan, cenderung dianggap sebagai merendahkan nilai-nilai suci yang ada pada agama sebagai ajaran yang bersumber pada wahyu Ilahi.
Titik pandang yang berbeda ini menimbulkan persepsi yang cukup sulit untuk dipertemukan. Usaha untuk mempelajari agama melalui pendekatan psikologi, bukanlah merupakan usaha yang dapat diterima begitu saja. Baik para ilmuwan yang berkecimpung di bidang ilmu agama maupun di bidang psikologi menolak usaha ini. Terlepas dari sikap pro dan kontra, kenyataan menunjukkan bahwa agama mempengaruhi sikap dan tingkah laku pemeluknya. Sikap dan tingkah laku yang berhubungan dengan keyakinan tersebut dapat diamati secara empiris. Apa yang ditampilkan seorang penganut yang taat, bagaimanapun berbeda dari sikap dan tingkah laku mereka yang kurang taat beragama. Di sini terlihat bahwa dari sudut pandang psikologi, agama dapat berfungsi sebagai pendorong atau penengah bagi tindakan-tindakan tertentu, sesuai dengan keyakinan yang dianut seseorang. Dari sudut pandang ini maka dapat terungkap bahwa pemahaman mengenai keyakinan seseorang dalam kaitan dengan agama yang dianutnya dapat dilakukan melalui pendekatan psikologi.
Manusia menurut terminology Al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Manusia disebut al-basyar berdasarkan pendekatan aspek biologinya. Al-insan dilihat dari fungsi dan potensi yang dimilikinya, sebagai khalifah dan mengembangkan ilmu. Kemudian manusia disebut al-nas yang umumnya dilihat dari sudut pandang hubungan sosial yang dilakukannya. Dalam bentuk pengertian umum, Al-Qur’an menyebut manusia sebagai Bani Adam. Selanjutnya, manusia menurut pandangan Islam juga dipandang sebagai makhluk psikis, menurut konsep Islam senantiasa dihubungkan dengan nilai-nilai agama.
B.     Sejarah Ilmu Psikologi
Pada zaman sebelum Masehi, jiwa manusia sudah menjadi topik pembahasan para filsuf. Saat itu, para Filsuf sudah membicarakan aspek-aspek kejiwaan manusia dan mereka mencari dalil, pengertian, serta pelbagai aksioma umum, yang berlaku pada manusia. Ketika itu, psikologi memang sangat dipengaruhi oleh cara-cara berpikir filsafat dan terpengaruh oleh filsafatnya sendiri. Hal tersebut dimungkinkan karena para ahli psikologi pada masa itu adalah juga ahli-ahli filsafat atau para ahli filsafat waktu itu juga ahli psikologi. Sebelum tahun 1879, jiwa dipelajari oleh para filsuf dan para ahli ilmu faal (fisiologi), sehingga psikologi dianggap sebagai bagian dari kedua ilmu tersebut. Selain pengaruh dari ilmu faal, psikologi juga dipengaruhi oleh satu hal yang tidak sepenuhnya berhubungan dengan ilmu faal, meskipun masih erat hubungannya dengan ilmu kedokteran, yaitu hipnotisme.
Psikologi, dikukuhkan sebagai ilmu yang berdiri sendiri oleh Wilhelm Wundt dengan didirikannya Laboratorium Psikologi pertama di dunia, di Leipzig, pada tahun 1879. Sebelumnya, bibit-bibit psikologi sosial mulai tumbuh, yaitu ketika Lazarus & Steindhal pada tahun 1860 mempelajari bahasa, tradisi, dan institusi masyarakat untuk menemukan "jiwa umat manusia" (human mind) yang berbeda dari "jiwa individual".
Yang diteliti dalam laboratorium psikologi tersebut, terutama mengenai gejala pengamatan dan tanggapan manusia, seperti persepsi, reproduksi, ingatan, asosiasi, dan fantasi. Tampak benar bahwa tokoh-tokoh psikologi eksperimental ini terutama meneliti gejala-gejala yang termasuk Bewusztseinpsychologie, atau gejala-gejala psikis yang berlangsung di dalam jiwa yang sadar bagi diri manusia itu, sesuai dengan rumusan Descartes mengenai jiwa, yaitu bahwa ilmu jiwa (psikologi) adalah ilmu pengetahuan mengenai gejala-gejala kesadaran manusia. Gejala-gejala jiwa "bawah sadar" belum diperhatikannya.
Beberapa penemuan penting dari Helmholtz yang perlu dicatat adalah Tahun 1850, ia menghitung kecepatan jalannya impuls; tahun 1856, ia mengemukakan bahwa semua warna sebenarnya berasal dari tiga warna dasar, yaitu merah, hijau, dan biru; tahun 1863, ia mengemukakan bahwa perbedaan suara yang dapat kita dengar disebabkan adanya reseptor pada telinga bagian dalam (cochlea atau rumah siput), dan reseptor ini disebut membrana basillaris. Selain itu, ia juga banyak menyelidiki tentang pengamatan, kemudian ia mengemukakan suatu doktrin yang disebut unconscious inference atau unbewusster suhluse, yaitu penyimpulan terhadap suatu rangsang dipengaruhi oleh adanya; faktor-faktor yang tidak disadari. Apa yang masuk dalam pengamatan kita, kadang-kadang hanya samar atau mungkin hanya sebagian saja yang mastik dalam lapangan pengamatan kita. Meskipun demikian, kita dapat mangamati rangsang itu dengan jelas ataupun mengamati objek secara keseluruhan.
C.     Pengertian Psikologi Agama
Psikologi agama terdiri dari dua kata, yaitu psikologi dan agama. Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “psyche”, yang berarti jiwa dan kata ‘logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara harfiah psikologi diartikan dengan ilmu jiwa. Psikologi secara istilah adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.
Lahey memberikan definisi “psychology is the scientific study of behavior and mental processes” ( psikologi adalah kajian ilmiah tentang tingkah laku dan proses mental). Tingkah laku adalah segala sesuatu / kegiatan yang dapat diamati, sedangkan proses mental didalamnya mencakup pikiran, perasaan juga motivasi. Jadi singkatnya psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan yang berada di belakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin di lihat dari gejala yang tampak, yaitu pada sikap dan tingkah laku yang ditampilkannya.
Zakiah Daradjat memberikan definisi psikologi agama adalah meneliti dan menalaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Disamping itu, psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.
Memang diakui bahwa untuk mengemukakan definisi secara tegas mengenai psikologi agama agak sulit, karena selain disiplin ilmu ini mencakup bidang kajian yang berlainan. Baik psikologi maupun agama merupakan persoalan yang abstrak. Terlebih lagi masalah yang menyangkut agama, sukar untuk didefinisikan secara jelas dan dapat disetujui semua pihak. Apalagi agama menyangkut kehidupan batin yang paling mendalam dan peka. Selain pengalaman agama bersifat individual dan subjektif, sehingga setiap orang memiliki penghayatan yang berbeda-beda.
Dalam kajian psikologi agama, persoalan agama tidak ditinjau dari makna yang terkandung dalam pengertian yang bersifat definitif. Pengertian agama dalam kajian dimaksud lebih umum, yaitu mengenai proses kejiwaan terhadap terhadap agama serta pengaruhnya dalam kehidupan pada umumnya. Melalui pengertian umum seperti itu, paling tidak akan dapat diamati fungsi dan peranan keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap sebagai agama kepada sikap dan tingkah laku lahir dan batin seseorang. Dengan kata lain, bagaimana pengaruh keberagamaan terhadap proses dan kehidupan kejiwaan sehingga terlihat dalam sikap dan tingkah laku lahir ( sikap dan tindakan serta cara bereaksi) serta sikap, dan tingkah laku batin ( cara berfikir, merasa atau sikap emosi).
Selain psikologi agama, muncul pula psikologi yang lebih spesifik kepada Islam dengan nama psikologi Islam. Psikologi Islam ini didefinisikan sebagai kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan prilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hakikat definisi tersebut mengandung tiga unsur pokok: pertama, bahwa psikologi Islam merupakan salah satu kajian dari masalah-masalah keislaman. Kedua, bahwa psikologi Islam mengkaji aspek-aspek dan prilaku kejiwaan manusia, tidak hanya menekankan prilaku kejiwaan saja tetapi juga apa hakikat jiwa sesungguhnya. Ketiga, bahwa psikologi Islam bukan netral etik, melainkan sarat akan nilai etik.
Terlepas dari adanya perbedaan paradigma antara psikologi agama secara umum dengan psikologi Islam, dapat disimpulkan bahwa cabang ilmu ini mempunyai objek kajian tentang jiwa dan segala yang berkaitan dengannya, di samping itu psikologi ini juga meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya.
D. Aliran-Aliran Dalam Psikologi
1.      Strukturalisme (Structuralism)
Struktur adalah sebuah bangunan yang terdiri atas berbagai unsur yang satu sama lain berkaitan. Dengan demikian, setiap perubahan yang terjadi pada sebuah unsur struktur akan mengakibatkan perubahan hubungan antarunsur tersebut. Jadi, hubungan antarunsur akan mengatur sendiri bila ada unsur yang berubah atau hilang. Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang mandiri, psikologi didominasi oleh gagasan serta usaha mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal, melalui penelitian laboratorium dengan menggunakan metode introspeksi.
2.      Aliran Fungsionalisme (Functional Psychology)
Aliran psikologi ini merupakan reaksi terhadap strukturalisme.tentang keadaan-keadaan mental. Jika para strukturalis bertanya "Apa kesadaran itu", para fungsionalis bertanya "Untuk apa kesadaran itu". Apa tujuan dan fungsinya? Karena ingin mempelajari cara orang menggunakan pengalaman mental untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar, mereka disebut fungsionalis.
Fungsionalisme adalah suatu tendensi dalam psikologi yang menyatakan bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis Drever (1988 menyebut fungsionalisme (functional Psychology) sebagai suatu jenis psikologi yang menggarisbawahi fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan organisme itu, dan bukan menggambarkan atau menganalisis fakta-fakta pengalaman atau kelakuan; atau suatu psikologi yang mendekati masalah pokok dari sudut pandang yang dinamis, dan bukan dari sudut pandang statis.
3.      Aliran Psikoanalisis
Lahirnya aliran psikoanalisis dalam dunia psikologi oleh para ahli psikologi sering dianalogikan dengan revolusi Convernican dalam natural science; dicaci, ditolak, tapi pada akhirnya diagungkan. Sistem kepribadian yang ketiga Super-Ego - berisi kata hati atau conscience. Kata hati ini berhubungan dengan lingkungan sosial dan mempunyai nilai-nilai moral, sehingga merupakan kontrol atau sensor terhadap dorongan-dorongan yang datang dari Id. Super-Ego menghendaki agar dorongan-dorongan tertentu saja dari Id yang direalisasikan; sedangkan dorongan-dorongan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral, tetap tidak dipenuhi.
Karena itu, ada semacam kontradiksi antara Id dan Super Ego yang harus dapat memenuhi tuntunan kedua sistem kepribadian lainnya ini secara seimbang. Kalau Ego gagal menjaga keseimbangan antara dorongan dari Id dan larangan-larangan dari Super Ego, individu yang bersangkutan akan menderita konflik batin yang terus-menerus; dan konflik ini akan menjadi dasar dari neurose.
4.      Aliran Psikologi Gestalt (Gestalt Psychology)
Eksperimen Gestalt pertama, menurut Atkinson clan kawan-kawan, adalah mempelajari gerakan, terutama fenomena phi. Jika dua cahaya dinyalakan secara berurutan (asalkan waktu dan lokasi spasialnya tepat), subjek melihat cahaya tunggal bergerak dari posisi cahaya pertama ke cahaya kedua. Fenomena kesan pergerakan ini telah banyak diketahui, tetapi ahli psikologi Gestalt menangkap kepentingan teoretis pola stimuli dalam menghasilkan efek. Pengalaman kita bergantung pada pola yang dibentuk oleh stimuli dan pada organisasi pengalaman, menurut mereka. Apa yang kita lihat adalah relatif terhadap latar belakang, dengan aspek lain dari keseluruhan. Keseluruhan berbeda dengan penjumlahan bagian-bagiannya; keseluruhan terbagi atas bagian dari suatu hubungan.

5.      Aliran Behaviorisme (Behaviorism)
Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, kaum behavioris lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Tentu saja, behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional, behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.
6.      Aliran Psikologi Kognitif
Psikologi kognitif adalah pendekatan psikologi yang memusatkan perhatian pada cara kita merasakan, mengolah, menyimpan, dan merespons informasi. Pendekatan kognitif dapat diterapkan pada hampir semua bidang psikologi. Pada bagian terakhir bab ini, kita akan melihat dua contoh pendekatan kognitif. Psikologi kognitif termasuk bidang studi utama yang berdiri sendiri dan sebagian besar isi bab ini disediakan untuk itu.
7.      Aliran Psikologi Humanistik
Tujuan psikologi humanistik adalah membantu manusia memutuskan apa yang dikehendakinya dan membantu memenuhi potensinya. Artinya, praktek humanistik dalam terapi, pendidikan atau di tempat kerja, selalu dipusatkan untuk menciptakan kondisi-kondisi agar manusia dapat menentukan pikiran dan mengikuti tujuannya sendiri. Manusia dimotivasi oleh adanya keinginan untuk berkembang dan memenuhi potensinya.
Manusia bisa memilih ingin menjadi seperti apa, dan tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Kita semua bisa memutuskan bagaimana cara kita menjalani hidup. Penekanan pada kehendak bebas (free will) ini sangat berlawanan dengan pendekatan perilaku dan psikodinamika yang lebih menekankan pada apa yang menyebabkan kita berperilaku demikian (ini disebut determinisme).
D.    Pengkajian Psikologi Dalam Studi Islam
Dalam konteks studi islam, ada dua tipe pendekatan terhadap psikologi islami yaitu: Mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan psikologi dalam hubungannya dengan islam adalah konsep psikologi modern yang telah kita kenal selama ini yang telah mengalami proses filterisasi dan di dalamnya terdapat wawasan islam. Jadi, konsep-konsep atau teori aliran-aliran psikologi modern kita terima secara kritis, menurut pandangan ini, tugas kita adalah membuang konsep-konsep yang kontra atau yang anti terhadap islam.
Mereka berpandangan bahwa psikologi modern yang ada dan yang kita kenal pada selama ini bisa sja kita sebut Islami asalkan sesuai dengan pandangan islam. Salah satu aliran psikologi yang termasuk Islami adalah psikologi Humanistik. Seorang pemikir psikologi Islam berpandangan bahwa teori-teori Psikologi barat dapat kita manfaatkan dan dapat disebut psikologi Islami asalkan praktiknya berwawasan Islam. Ia mengungkapkan bahwa konsep tentang struktur kepribadian manusa yang dibangun oleh tokoh-tokoh modern seperti alam sadar, pra sadar dan tak sadar (psikoanalisis), afeksi, konasi & kognisi (Behavior) serta dimensi somatis, psikis dan neotik (Humanistik) dll, dapat kita pandang sebagai Islam setelah semua unsur dalam struktur kepribadian tersebut di ungkap dalam konsep ruh.
Dengan penekanannya pada pengembangan pribadi dan pentingnya pengalaman hidup individu di dunia, tradisi humanistik tergolong unik karena inilah satu-satunya pendekatan psikologi yang cocok dengan gagasan spiritualitas. Walaupun tidak semua pandangan ahli psikologi bersifat spiritual atau religius, walaupun Anda tidak harus menjadi seorang yang religius atau spiritual untuk menerapkan atau menarik manfaat dari psikologi humanistik, namun ada keterkaitan yang kuat antara pendekatan ini dengan keagamaan.
Berdasarkan penjabaran di atas, psikologi Islam di artikan sebagai perspektif modern dengan membuang konsep-konsep yang tidak sesuai dengan Islam. Psikologi adalah disiplin Ilmu yang sekuler dan karenanya memberikan wawasan Islam terhadap konsep psikologi modern adalah suatu cara agar konsep-konsep yang dipakai mengalami filterisasi dan tidak menyesatkan. Salah satu hal dalam psikologi yang berkaitan dengan dunia Islam sebagai berikut dalam Firman Allah (QS 41: 31), “ kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri”. Ayat ini hendak mengungkapkan bahwa di alam semesta ini maupun dalam diri manusia terdapat sesuatu yang menunjukkan adanya tanda-tanda kekuasaan Allah. Yang di maksud dengan “sesuatu” tersebut adalah rahasia-rahasia tentang keadaan alam dan keadaan manusia, maka jadilah manusia sebagai makhluk yang berpengetahuan dan berilmu.
Dalam hal ini bisa kita lihat lebih dalam bahwa manusia memiliki peranan penting dalam Al-qur’an, kalau diperhatikan lebih cermat, salah satu istilah yang berkenaan dengan manusia yaitu nafs yang di sebut ratusan kali, belum lagi al-naas, al basyar, dan al-insaan. Istilah tersebut menunjukkan betapa Alqur’an banyak sekali berbicara tentang manusia. Secara kompleksitas, dan bisa dijadikan lahan kajian, dalam Al-qur’an banyak yg berbicara tentang diri manusia yang berkaitan dengan psikologi seperti, Nafs, Ruh, Aql, Qolb, Fitrah, Akhlak dsb. Jiwa atau Nafs bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ia merupakan satu kesatuan dengan keadaan badan. Antara jiwa dan badan muncul suatu kesinambungan yang mencerminkan adanya totalitas dan unitas.
Secara garis besar, psikologi juga banyak kaitannya dengan agama, menurut Jalaludin dalam bukunya Psikologi Agama, psikologi agama merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Menurut Prof Zakiyah Drajat, menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan (terhadap suatu agama yang di anut). Dalam hal ini bisa dikaitkan denga teori humanistik bahwasanya manusia adalah makhluk yang positif, manusia bisa memilih ingin menjadi seperti apa, dan tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Dalam hal ini manusia bisa memilih akan menjalankan agama yang dianut seperti apa, mengikuti perasaan hati dan kesadaran atas apa yang dia kerjakan.
Seperti penjabaran di atas, hasil kajan psikologi juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehdupan seperti kehidupan, seperti bidang pendidikan, interaksi sosial, perkembangan manusia dan lain sebagainya. Dalam bidang pendidikan di sini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagai hakikat kejadiannya. Jadi dalam pengertian pendidikan Islam ini tidak hanya dibatasi oleh institusi atau lapangan pendidikan tertentu, pendidikan Islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas. Salah satu contohnya pendidikan dalam keluarga, pendidikan pertama pada anak adalah keluarga, dari keluarga anak belajar banyak hal seperti sopan-santun, belajar mengenal agama sampai pada tolerasi dan kasih sayang. Karena ibaranya keluarga merupakan lingkungan kecil yang membentuk suatu karakter pada diri anak. Oleh sebab itu diharapka orang tua sebagai pendidik sekaligus modelling bagi anak, dapat memberikan contoh yang baik, karena pada dasarnya anak belajar dari apa yang dia lihat, apa yang dia model, hal ini kaitannya dengan psikologi perilaku (behavior)
E.     Contoh-Contoh Studi Islam Dengan Pendekatan Psikologi Agama
Pendekatan psikologi agama dapat di lihat contohnya dalam studi Islam. Adapun contoh psikologi agama yang digunakan dalam kajian Islam dan umat Islam dapat dilihat dalam ritual manusia dalam agama yang diyakininya. diantaranya, tentang perasaan seorang ahli tasawuf terhadap Allah, yang mana dia merasa Allah selalu hadir dalam hatinya dan dia juga selalu membiasakan lisannya untuk berzikir kepada Allah yang dilakukannya secara terus menerus dan secara sadar maka akan melekatlah di dalam hatinya dan akan menimbulkan ketentraman jiwa.
Seorang muslim yang hatinya selalu merasa tenang, bahagia, suka menolong orang lain, walaupun kehidupannya sangat sederhana. Tengah malam ia bangun untuk mengabdi pada Allah dan waktu subuh sebelum semua orang terbangun, dia telah duduk pula di tikar sholatnya, sebaliknya ada orang muslim yang cukup kaya dan banyak hartanya, namun hatinya penuh kegoncangan, tidak pernah merasa puas, di rumah tangganya selalu bertengkar. Hal ini jelas menunjukkan seberapa besar pengaruh agama dalam kehidupannya.
Begitu juga yang dapat dirasakan oleh orang biasa, seperti perasaan lega, tenang, sehabis shalat dan setelah selesai membaca al-Qur’an dan berdoa. Dan sikap seorang muslim ketika memasuki mesjid akan menunjukkan sikap hormat, dari pada orang yang menganut keyakinan lain. Sikap demikian juga akan dijumpai pada penganut agama lain saat memasuki rumah ibadahnya masing-masing. Bagi setiap penganut agama, rumah ibadah memberi pengalaman batin tersendiri yang menimbulkan reaksi terhadap tingkah laku masing-masing sesuai dengan keyakinan mereka. Seorang muslim mengucapkan salam ketika berjumpa dengan muslim lainnya, hormat kepada orang tua, menutup aurat, rela berkorban untuk kebenaran dan sebagainya adalah merupakan gejala-gejala keagamaan yang dapat dijelaskan dengan pendekatan psikologi agama.
Berapa banyak orang muslim yang berubah jalan hidupnya dan keyakinannya dalam waktu yang singkat, seperti dari seorang yang taat beribadah berubah menjadi orang yang lalai dan menentang agama, dari yang beragama Islam menjadi non Islam. Seorang muslim yang keluar dari Islam (murtad), banyak faktor yang mempengaruhinya. Untuk mengetahui faktor-faktor tersebut maka jawabannya dapat dilihat dari pendekatan psikologi. Adapun yang ingin di jawab pendekatan psikologi adalah faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan seorang murtad, karena menurut psikologi agama ada dua faktor yang menyebabkan seorang murtad, yaitu faktor Intern (dalam diri) dan faktor Ekstren (faktor luar diri).
Faktor Intern (dalam diri) yang bisa mempengaruhi seseorang murtad adalah dari kepribadiannya. Secara psikologi tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi jiwa seseorang. Dalam penelitian William James, ia menemukan bahwa tipe melankolis memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam yang dapat menyebabkan terjadinya konversi agama/ pindah agama dalam dirinya. Kemudian faktor pembawaan, menurut penelitian Guy E. Swanson bahwa ada semacam kecendrungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak sulung dan anak yang bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin, sedangkan anak yang dilahirkan pada urutan antara keduanya sering mengalami stress jiwa. Kondisi yang dibawa berdasarkan urutan kelahiran itu banyak mempengaruhi terjadinya seorang murtad.
Adapun faktor Ekstren adalah pertama, faktor keluarga, keretakan keluarga, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat dan lainnya, sehingga kondisi ini menyebabkan seorang stress dan untuk meredakan stress atau tekanan batinnya dia melakukan konversi agama. Kedua, faktor lingkungan tempat tinggal yang mana jika seseorang merasa terlempar atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat maka dia akan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahannya hilang. Ketiga, faktor perubahan status yang mana jika perubahan status ini terjadi secara mendadak akan banyak mempengaruhi konversi agama, misalnya perceraian, kawin dengan orang yang berlainan agama, ke luar dari sekolah. Keempat, faktor kemiskinan, kondisi sosial yang sulit juga merupakan faktor yang mendorong untuk konversi agama. Masyarakat awam yang miskin cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik. Kebutuhan mendesak akan sandang dan pangan dapat mempengaruhi.
Dari hal di atas, dapat disimpulkan bahwa tekanan batin atau stress dapat mendorong seseorang untuk melakukan konversi agama. Dalam kondisi jiwa yang tertekan, maka secara psikologis kehidupan seseorang itu kosong dan tak berdaya sehingga dia berusaha untuk mencari ketenangan batin, salah satu caranya dengan konversi agama.
F.      Problematika Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
Tokoh yang dianggap paling berjasa dalam melahirkan psikologi agama adalah Edwin Diller Starbuck, William James dan James H. Leuba. Mereka ini adalah orang-orang non muslim dan orang Barat. Setiap pendekatan mempunyai manfaat dan problematika, begitu juga dengan pendekatan psikologi agama yang mereka pelopori, banyak memberikan manfaat dan solusi dalam memecahkan berbagai problema, terutama dalam hal yang menyangkut persoalan kejiwaan yang berkaitan dengan masalah agama, dengan kata lain, bagaimana pengaruh keberagamaan terhadap proses dan kehidupan kejiwaan sehingga terlihat dalam sikap dan tingkah laku lahir ( sikap dan tindakan serta cara bereaksi) serta sikap, dan tingkah laku batin ( cara berfikir, merasa atau sikap emosi).
Dengan demikian, psikologi agama dapat dimanfaatkan oleh umat Islam untuk memberikan penjelasan ilmiah terhadap berbagai problema dan dapat pula dipakai untuk meningkatkan sumber daya manusianya. Setidaknya, psikologi agama dapat digunakan sebagai alat analisis untuk membedah berbagai permasalahan yang dihadapi umat Islam, seperti masalah kepatuhan pada aturan Allah, keterbelakangan pendidikan, dan sebagainya. Permasalahan tersebut dapat dianalisis dengan psikologi agama.
Walaupun demikian, disadari sepenuhnya bahwa sebagai ilmu yang dibangun dan dikembangkan dalam masyarakat dan budaya Barat, maka sangat mungkin kerangka pikir psikologi agama ini dipenuhi dengan pandangan-pandangan atau nilai-nilai hidup masyarakat Barat. Kenyataan yang sulit dibantah adalah psikologi lahir dengan didasarkan pada paham-paham masyarakat Barat yang sekularistik. Tak jarang kita temui pandangan-pandangan psikologi berbeda bahkan bertentangan dengan pandangan Islam.
Adapun problematika atau permasalahan yang mungkin timbul dengan digunakan psikologi agama dalam mengkaji Islam adalah tentang konsep-konsep psikologi agama yang memiliki kekurangan dan keterbatasan bahkan mungin dapat menimbulkan bias yang sangat besar, karena sering kali mereduksi Islam ke dalam pengertian-pengertian yang parsial dan tidak utuh. Selain itu, kerena titik berangkatnya pembahasan ini adalah konsep psikologi, sehingga sering kali membuat kita terjebak, yaitu memandang persoalan lebih berangkat dari pemahaman terhadap psikologi dari pada Islamnya. Dengan demikian alangkah baiknya jika kita membangun suatu konsep psikologi yang berdasarkan pada Islam dengan merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadis.
G.     Signifikasi Dan Kontribusi Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
Pada zaman sekarang ini banyak terjadi fenomena seperti adanya bunuh diri bersama di negara Jepang dan beberapa negara lainnya, fenomena pergaulan bebas (free sex), tingginya tingkat pencurian motor, pembunuhan tanpa perasaan bersalah (mutilasi), bahkan fenomena-fenomena yang bersampul agama Islam sekalipun, seperti kasus bom bunuh diri yang dilakukan oleh umat Islam, perusakan tempat-tempat hiburan di Jakarta, beberapa tahun yang lalu dan sebagainya. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi terjadinya fenomena tersebut? Hal ini tentu tidak dapat lagi sepenuhnya dikaji dengan pendekatan teologis-normatif semata. Maka disinilah metode dan pendekatan-pendekatan lainnya mengambil peran penting, termasuk psikologi, khususnya psikologi agama.
Pendekatan psikologi agama mempunyai peranan penting dan memberikan banyak sumbangan dalam studi Islam. Psikologi agama berguna untuk mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, difahami, dan diamalkan seseorang muslim, misalnya kita dapat mengetahui pengaruh dari ibadah shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya dalam kehidupan seseorang.
Psikologi agama juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan dan menanamkan ajaran agama Islam ke dalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan pengetahuan ini, maka dapat disusun langkah-langkah baru yang lebih efesien dalam menanamkan ajaran agama Islam, baik untuk masa sekarang, maupun dimasa yang akan datang. Itulah sebabnya pendekatan psikologi agama ini banyak digunakan sebagai alat untuk menjelaskan sikap keberagamaan seseorang. Dengan demikian seseorang akan memiliki tingkat kepuasan tersendiri dalam agamanya, karena seluruh persoalan hidupnya mendapat bimbingan agama.
Selain itu, psikologi agama membantu untuk mengarahkan seseorang pada pendidikan agama Islam yang tepat, seperti terhadap seorang bayi, bahkan terhadap jabang bayi yang ada dalam kandungan seorang ibu yang sedang hamil. Lebih lanjut Jalaluddin menerangkan dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi. Jepang ternyata menggunakan pendekatan psikologi agama dalam membangun negaranya. Bermula dari mitos bahwa kaisar Jepang adalah titisan Dewa Matahari (Amiterasu Omikami), mereka dapat menumbuhkan jiwa Bushido, yaitu ketaatan terhadap pemimpin. Mitos ini telah dapat membangkitkan perasaan agama para prajurit Jepang dalam perang dunia II untuk melakukan Harakiri (bunuh diri) dan ikut dalam pasukan Kamiokaze (pasukan berani mati). Dan setelah selesai perang dunia II, jiwa Bushido tersebut bergeser menjadi etos kerja dan disiplin serta tanggung jawab moral.
Adapun kontribusi pendekatan psikologi agama dalam studi Islam adalah :
  1. Untuk membantu di dalam meneliti bagaimana latar belakang keyakinan beragama seorang muslim.
  2. Untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah keberagamaan seorang muslim, seperti penyakit mental dan hubungannya dengan keyakinan beragama.
  3. Untuk mengetahui bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya dan bagaimana pengaruh hubungan tersebut terhadap prilaku dan cara berpikir.
Dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan kesadaran beragama. Pengobatan pasien di rumah-rumah sakit, usaha bimbingan dan penyuluhan nara pidana di lembaga permasyarakatan banyak dilakukan dengan cara menggunakan psikologi agama. Demikian pula dalam lapangan pendidikan, psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan peserta didik, dan sebagainya.

H.    Kesimpulan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar